Bangunan kolonial di Kota Tangerang (Doc.Google)
BANTEN— Di tengah laju betonisasi dan ekspansi kawasan komersial, jejak sejarah kolonial di Tangerang perlahan terdesak. Bangunan-bangunan tua yang pernah menjadi saksi perjalanan panjang kota kini berdiri di persimpangan: dilestarikan atau hilang tanpa jejak. Senin, 13 April 2026.
Sejumlah situs bersejarah masih bertahan, namun kondisinya memunculkan pertanyaan serius tentang komitmen pelestarian.
Salah satu yang paling dikenal adalah Museum Benteng Heritage. Bangunan abad ke-17 ini bukan sekadar museum, melainkan representasi identitas komunitas Tionghoa Benteng. Namun, keberadaannya masih bergantung pada inisiatif komunitas, bukan sistem perlindungan yang kuat dari pemerintah.
Baca juga: Jejak Bangunan Kolonial di Kabupaten Tangerang, Warisan Sejarah yang Masih Bertahan
Tak jauh dari sana, Masjid Kali Pasir berdiri sebagai simbol akulturasi budaya. Masjid tertua di kota ini memadukan unsur lokal, Tionghoa, dan kolonial. Ironisnya, kawasan sekitarnya terus terdesak pembangunan tanpa konsep pelestarian yang jelas.
Sementara itu, Pintu Air Sepuluh—infrastruktur vital peninggalan Belanda—masih berfungsi hingga kini. Namun, minimnya narasi sejarah di lokasi membuat situs ini lebih dipandang sebagai bangunan teknis, bukan warisan bernilai tinggi.
Di sektor transportasi, Stasiun Tangerang telah mengalami modernisasi. Perubahan ini memang meningkatkan layanan publik, tetapi juga mengikis karakter arsitektur kolonial yang tersisa.
Baca juga: Jejak Kolonial di Lebak: Warisan Sejarah yang Masih Bertahan di Tanah Multatuli
Kondisi serupa terlihat di Pasar Lama Tangerang. Kawasan ini hidup sebagai pusat kuliner dan ekonomi, namun penataan bangunan tua cenderung sporadis. Banyak fasad asli tertutup renovasi tanpa memperhatikan nilai historis.
Fenomena ini memperlihatkan dilema klasik: pembangunan ekonomi versus pelestarian sejarah. Tanpa regulasi ketat dan pengawasan konsisten, bangunan kolonial rentan berubah fungsi atau bahkan hilang.
Padahal, kota-kota besar lain telah membuktikan bahwa pelestarian dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi—bahkan menjadi daya tarik wisata unggulan.
Pemerintah Kota Tangerang perlu segera mengambil langkah strategis, mulai dari pendataan ulang bangunan cagar budaya, penetapan zonasi perlindungan, hingga insentif bagi pemilik bangunan bersejarah.
Baca juga: Jejak Kolonial di Kabupaten Pandeglang: Warisan Sejarah yang Masih Bertahan
Tanpa itu, Tangerang berisiko kehilangan identitas historisnya. Yang tersisa hanyalah cerita—tanpa wujud.
Jika tidak dijaga hari ini, bukan tidak mungkin dalam satu dekade ke depan, jejak kolonial di Tangerang hanya tinggal arsip dan foto lama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan