BANTEN– Setiap tanggal 27 Desember, masyarakat Kabupaten Tangerang memperingati Hari Jadi Kabupaten Tangerang. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang sejarah daerah yang kini berkembang menjadi salah satu pusat industri, perdagangan, dan permukiman terbesar di Indonesia.
Kabupaten Tangerang memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua dibandingkan tanggal peringatan hari jadinya. Wilayah ini telah menjadi bagian penting dari perjalanan Kesultanan Banten, masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga era kemerdekaan Indonesia. Sabtu, 18 Juli 2026.
Sejarah Tangerang bermula pada pertengahan abad ke-16 ketika Kesultanan Banten memperkuat wilayah perbatasannya dengan Batavia yang dikuasai VOC. Sultan Banten mengutus tiga tokoh atau Tumenggung, yakni Aria Yudhanegara, Aria Wangsakara, dan Aria Jaya Santika, untuk membangun kawasan pertahanan sekaligus pusat pemerintahan di wilayah yang kini dikenal sebagai Tigaraksa.
Ketiga tokoh tersebut membangun permukiman, benteng pertahanan, serta mengembangkan kehidupan masyarakat. Dari sinilah lahir kawasan yang kemudian dikenal sebagai Tigaraksa, yang dipercaya berasal dari makna "Tiang Tiga" sebagai penghormatan kepada tiga pemimpin tersebut.
Nama Tangerang diyakini berasal dari kata Tangger"dalam bahasa Sunda yang berarti tanda atau penanda.
Menurut catatan sejarah, Pangeran Soegiri atau Pangeran Sugri, putra Sultan Ageng Tirtayasa, membangun sebuah tugu penanda di tepi Sungai Cisadane sebagai batas wilayah Kesultanan Banten dengan Batavia. Masyarakat kemudian menyebut kawasan tersebut sebagai Tanggerang, yang lambat laun berubah menjadi Tangerang.
Tonggak penting berdirinya pemerintahan Kabupaten Tangerang terjadi pada masa pendudukan Jepang.
Pada 27 Desember 1943, Pemerintah Militer Jepang melalui keputusan Syuutyookan menetapkan pemindahan Jakarta Ken Yakusyo ke Tangerang serta mengganti nama Djakarta Ken menjadi Tangerang Ken.
Kebijakan tersebut dilakukan agar penyelenggaraan pemerintahan menjadi lebih efektif mengingat luasnya wilayah yang sebelumnya berada di bawah administrasi Kabupaten Jakarta.
Seiring keputusan tersebut, Atik Soeardi diangkat sebagai Bupati Tangerang pertama pada masa pemerintahan Jepang. Peristiwa inilah yang kemudian dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Tangerang.
Pada masa kepemimpinan Bupati H. Tadjus Sobirin, bersama DPRD Kabupaten Tangerang, ditetapkan bahwa **27 Desember 1943 menjadi Hari Jadi Kabupaten Tangerang.
Penetapan tersebut dituangkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 18 Tahun 1984 tanggal 25 Oktober 1984.
Hingga kini tanggal tersebut terus diperingati sebagai hari lahir pemerintahan Kabupaten Tangerang.
Perjalanan Kabupaten Tangerang juga ditandai dengan sejumlah pemekaran wilayah, antara lain:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan