Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak (Doc. Museum Multatuli)
BANTEN– Kabupaten Lebak dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sejarah, termasuk peninggalan masa kolonial Belanda yang masih dapat ditemukan hingga saat ini. Bangunan-bangunan tersebut tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah, tetapi juga menyimpan nilai arsitektur dan budaya yang tinggi. Senin, 13 April 2026.
Baca juga: Jejak Kolonial di Kabupaten Pandeglang: Warisan Sejarah yang Masih Bertahan
Salah satu bangunan kolonial yang cukup dikenal adalah kawasan sekitar Rangkasbitung. Kota ini pernah menjadi pusat administrasi pemerintahan kolonial di wilayah Lebak. Di kawasan ini, masih terdapat sejumlah bangunan tua bergaya Indische yang ditandai dengan langit-langit tinggi, ventilasi besar, dan penggunaan material khas Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis.
Bangunan yang paling bersejarah adalah Museum Multatuli. Gedung ini dulunya merupakan kantor Asisten Residen Lebak pada masa kolonial. Tempat ini memiliki kaitan erat dengan Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, penulis novel *Max Havelaar* yang mengkritik praktik kolonialisme di Hindia Belanda. Kini, bangunan tersebut difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai arsip sejarah kolonial di Lebak.
Baca juga: Jejak Kolonial di Kota Cilegon: Sisa-Sisa Sejarah di Kota Industri
Selain itu, terdapat pula bangunan eks kantor pemerintahan kolonial dan rumah dinas pejabat Belanda yang tersebar di sekitar pusat kota Rangkasbitung. Beberapa di antaranya masih digunakan sebagai kantor pemerintahan, sementara lainnya telah mengalami perubahan fungsi.
Di wilayah lain seperti Bayah, jejak kolonial juga terlihat dari sisa-sisa infrastruktur pertambangan yang dibangun pada masa penjajahan. Kawasan ini dahulu dikenal sebagai lokasi tambang batu bara yang dikelola oleh pemerintah kolonial dan sempat menjadi pusat aktivitas ekonomi di wilayah selatan Lebak.
Baca juga: Bangunan Peninggalan Kolonial di Kabupaten Serang, Jejak Sejarah yang Masih Bertahan
Tak hanya itu, jalur rel kereta api peninggalan Belanda yang melintasi Lebak juga menjadi bagian penting dari sejarah kolonial. Stasiun-stasiun tua seperti di Rangkasbitung masih beroperasi hingga kini dan menjadi penghubung vital antara Banten dan wilayah lain di Pulau Jawa.
Keberadaan bangunan dan infrastruktur kolonial di Kabupaten Lebak menjadi potensi besar bagi pengembangan wisata sejarah. Namun, pelestarian menjadi tantangan tersendiri, mengingat sebagian bangunan mengalami kerusakan akibat usia dan kurangnya perawatan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat terus melakukan upaya konservasi agar warisan sejarah ini tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang, sekaligus menjadi sarana edukasi tentang masa lalu Lebak di bawah kolonialisme.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan