Musofa Badak jantan Jawa yang meninggal di JRSCA Taman Nasional Ujung Kulon (Doc.Mamo Erfanto)
BANTEN- Berdasarkan hasil Pemeriksaan Prof. drh. Bambang Pontjo Departemen Klinik, Reproduksi Dan Patologi dari Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor pada Musofa Badak Jawa yang meninggal di kawasan konservasi khusus Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menerangkan. Jumat, 28 November 2025.
Pada pemeriksaan Umum Luar:
Tiga gigi premolar mengalami keausan ynag cukup berat sehingga menyebabkan perubahan konstruksi gigi di rongga mulut, hingga beberpa gigi atas melukai mukosa bibir bawah.
Selain itu ditemukan beberapa luka seperti memar pada beberapa bagian kulit hingga nekrosa otot yang saat disayat menunjukkan area nekrosa hingga gangrene dan hasil pemeriksaan histopatologi ditemukan parasit yang bersarang di otot di bawah luka. Luka tersebut ada di pangkal ekor, bagian pubis, skapula kiri depan, kulit mandibula kanan dan beberapa lokasi lainnya dengan luasan yang bervariasi.
Baca juga: Musofa Badak Jantan Jawa Hanya Bertahan Hidup Tiga Hari Setalah Ditranslokasi
Baca juga: Musofa Badak Jawa Mati saat Ditranslokasi
Lebih lanjut dari rilis yang di keluarkan TNUK menyebutkan ditemukan infestasi caplak yang cukup berat terutama pada daerah lipatan paha kaki belakang dan depan serta lipatan kulit leher dan punggung, namun indikasi parasit darah yang diduga disebabkan caplak sebagai vektor penyakit tidak ditemukan pada gambaran ulas darah maupun indikasi anemia.
Pemeriksaan jaringan dan organ:
Lemak subkutis dan abdomen menunjukkan adanya degradasi (serous atrophy) parah yang di- akibatkan adanya defisiensi nutrisi/energi. Ditemukan juga cairan ascites di abdomen dengan jumlah cukup banyak.
Ditemukan infestasi parasit nematoda penghisap nutrisi di lambung, nematoda penghisap darah di sepanjang jejunum dan cestoda di duodenum hingga ileum (usus halus), dan cacing pipih dan bentuk oval di kolon dan beberapa cacing gelembung di submukosa duodenum dan jejunum. Makroskopi hati dan limpa masih cukup baik namun secara histopatologi menunjukkan adanya penuaan jaringan berupa hemosiderofag (sel darah tua yang difagosit oleh makrofag) yang terkumulasi dalam jumlah yang banyak. Tanda penuaan lain dengan ditemukan deposisi amyloid pada sekitar pembuluh darah limpa. Tidak ada indikasi peradangan pada limpa dan hati.
Paru-paru menunjukkan distensi berat dengan bidang sayatan basah dan banyak eksudasi cairan yang mengindikasikan adanya edema paru-paru. Namun secara histopatologi tidak menunjukkan adanya peradangan sehingga diduga terjadi edema non radang pada paru-paru.
Ginjal ditemukan adanya polisistik yang diduga akigat genetik pada ginjal sebelah kiri namun tidak menyebabkan gangguan fugsi ginjal. Sedangkan jantung dalam kondisi baik tidak menunjukkan suatu lesio spesifik terhadap penyakit tertentu, namun secara histopatologi ditemukan beberapa daerah degenerasi ringan sebagai akibat penuaan.
Ditemukan cairan yang cukup banyak pada ruang tengkorak dan secara histopatologi menunjukkan edema pada otak disertai degenerasi saraf yang juga diduga akibat penuaan.
Kesimpulan:
Berdasarkan temuan pemeriksaan saat nekropsi diduga badak telah berusia lebih dari 45 tahun dari data gigi dan kematian badak diduga akibat kelemahan umum yang kronis yang terjadi jauh sebelum penangkapan dan translokasi dilakukan.
Kematian badak lebih disebabkan kondisi hipoproteinemia parah akibat infestasi berat parasit di saluran pencernaan dan juga otot yang menyebabkan timbunan cairan di otak menyebabkan gangguan koordina- si dan paru-paru menyebabkan penurunan kadar oksigen darah sehingga badak mengalami kelemahan umum.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Rilis