Walikota Serang Budi Rustandi sedang memberi uang kepada warga Kota Serang (Dokumen)
BANTEN — Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Serang Budi Rustandi bersama Wakil Wali Kota Nur Agis Aulia menunjukkan sejumlah capaian makro yang positif. Namun, di balik angka-angka yang membaik, pertanyaan tentang kekuatan fondasi pembangunan mulai mengemuka.
Pemerintah Kota Serang mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik menjadi 77,50 pada 2025, dari 76,90 pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini ditopang oleh perbaikan layanan kesehatan dan meningkatnya daya beli masyarakat. Usia harapan hidup warga juga mencapai 75,63 tahun, menjadi indikator membaiknya kualitas hidup.
“Fokus utama kami adalah membangun ekonomi mandiri demi kesejahteraan warga. Setiap program dirancang agar berdampak langsung dan tepat sasaran,” kata Budi dalam keterangannya. Ia menekankan, sinergi antarorganisasi perangkat daerah menjadi kunci agar arah pembangunan tetap terukur.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Serang, W. Hari Pamungkas, menyebut capaian ini merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor yang dikomandoi langsung oleh wali kota.
Di sektor ekonomi, laju pertumbuhan ekonomi Kota Serang tercatat 5,2 persen pada 2025, naik dari 4,71 persen pada tahun sebelumnya. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita ikut meningkat dari Rp58,49 juta menjadi Rp61,65 juta, dengan proyeksi mencapai Rp67,93 juta pada 2027.
Pertumbuhan ini beriringan dengan penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 6,95 persen, didorong oleh program Serang Kreatif Produktif. Sementara itu, angka kemiskinan berhasil ditekan ke level 5,51 persen, ditopang bantuan sosial yang lebih tepat sasaran serta inflasi yang relatif terkendali.
Meski demikian, sejumlah target ambisius masih membayangi. Pemerintah kota menargetkan IPM mencapai 78,48 pada 2027. Penguatan UMKM dan percepatan perbaikan infrastruktur jalan disebut menjadi kunci agar manfaat pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di titik tertentu.
Di sinilah tantangan berikutnya. Kenaikan indikator makro kerap menjadi awal, bukan akhir. Ketika angka-angka mulai membaik, pertanyaan yang tersisa adalah seberapa kuat fondasi itu menopang pemerataan dan keberlanjutan.
Budi menyatakan, arah pembangunan akan terus difokuskan pada pemerataan manfaat. “Tujuan akhirnya adalah mewujudkan Kota Serang yang maju dan sejahtera, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara sosial,” ujarnya.
Infrastruktur Mantap yang Ciptakan Multiplier Effect
Pembangunan fisik dan tata kelola pemerintahan tidak sekadar mengejar angka. Meski Indeks Pelayanan Publik berhasil naik menjadi 4,16 dan capaian SAKIP meningkat ke 65,90 poin, Kepala Bapperida W. Hari Pamungkas memberikan catatan penting mengenai filosofi di balik capaian tersebut.
"Pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pasangan Budi-Agis ini bukan hanya menyasar fisik yang kasat mata, melainkan memiliki *multiplier effect* (efek ganda) terhadap ekonomi yang berjalan beriringan dengan pembangunan tersebut," papar Hari.
Ia mencontohkan pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) di area Kasemen yang secara khusus dirancang untuk menghubungkan roda-roda perekonomian dan menstimulasi pertumbuhan ekonomi warga sekitar.
Lebih lanjut, Hari menyoroti proyek strategis penanganan banjir. Jika di tahun 2025 normalisasi Sungai Cibanten telah memberikan rasio perlindungan mencapai 72,69 persen, pada tahun 2026 ini langkah tersebut dilanjutkan dengan normalisasi Sungai Karangantu atau Kali Sultan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan