BANTEN – Kabupaten Pandeglang merupakan salah satu daerah administratif di Provinsi Banten yang memiliki sejarah panjang serta kekayaan geografis dan budaya. Kabupaten ini dikenal luas dengan julukan “Kota Badak”, merujuk pada keberadaan Badak Jawa bercula satu yang dilindungi di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.
Kabupaten Pandeglang memiliki ibu kota yang juga bernama Pandeglang. Secara geografis, wilayah ini merupakan kabupaten paling barat di Pulau Jawa dan memiliki luas wilayah mencapai 2.746,89 kilometer persegi, termasuk sejumlah pulau kecil di Samudra Hindia seperti Pulau Panaitan, Pulau Deli, dan Pulau Tinjil.
Selain itu, Pandeglang juga menaungi Taman Nasional Ujung Kulon, kawasan konservasi dunia yang menjadi habitat terakhir Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) yang kini hampir punah.
Baca juga: Sejarah Terbentunya Kabupaten Serang Banten: Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa
Kondisi Geografis Kabupaten Pandeglang
Wilayah Kabupaten Pandeglang didominasi oleh dataran rendah dan dataran bergelombang, serta memiliki sejumlah gunung dan sungai yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat.
Tiga gunung utama yang berada di wilayah ini yaitu:
Gunung Karang, Gunung Pulosari, Gunung Aseupan.
Sementara itu, dua sungai besar yang mengalir di Pandeglang adalah Sungai Ciliman yang mengalir ke arah barat dan Sungai Cibaliung yang mengalir ke selatan menuju Samudra Hindia.
Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Serang di sebelah utara, Kabupaten Lebak di sebelah timur, serta Samudra Hindia di bagian barat dan selatan. Wilayahnya juga mencakup Semenanjung Ujung Kulon yang merupakan titik paling barat Pulau Jawa.
Baca juga: Budaya Tertib Berlalu Lintas Satlantas Polres Metro Tangerang Kota Sasar Para Pelajar
Sejarah dan Asal-Usul Kabupaten Pandeglang
Sejarah pemerintahan di Pandeglang telah ada sejak tahun 1828, ketika wilayah ini masih menjadi bagian dari Kabupaten Serang berdasarkan ketetapan Staatsblad Belanda. Saat itu, Kabupaten Serang memiliki 11 kawedanan, salah satunya adalah Kawedanan Pandeglang.
Kawedanan Pandeglang pada masa tersebut terdiri dari dua kecamatan, yaitu Kecamatan Pandeglang dan Kecamatan Cadasari.
Perubahan besar terjadi pada 1 April 1874, ketika pemerintah kolonial Belanda menerbitkan Staatsblad Nomor 73 Tahun 1874. Dalam aturan tersebut, Pandeglang resmi ditetapkan sebagai kabupaten dengan sembilan kawedanan, yakni:
Kawedanan Pandeglang
Kawedanan Baros
Kawedanan Ciomas
Kawedanan Kolelet
Kawedanan Cimanuk
Kawedanan Caringin
Kawedanan Panimbang
Kawedanan Menes
Kawedanan Cibaliung
Meski telah berstatus kabupaten, Pandeglang masih berada di bawah Karesidenan Banten. Baru pada tahun 1925, Kabupaten Pandeglang resmi berdiri sebagai daerah administratif yang terpisah dari Karesidenan Banten.
Tanggal 1 April 1874 kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Pandeglang, menandai awal terbentuknya pemerintahan kabupaten secara resmi.
Budaya dan Kehidupan Masyarakat
Penduduk asli Kabupaten Pandeglang berasal dari Suku Sunda Banten. Hingga kini, sebagian masyarakat masih memegang teguh adat dan budaya leluhur. Bahkan, beberapa warga diketahui masih menganut kepercayaan Sunda Wiwitan sebagai penghayat kepercayaan tradisional.
Pusat Pemerintahan dan Wisata
Pusat pemerintahan Kabupaten Pandeglang berada di empat kecamatan, yaitu:
Kecamatan Pandeglang, Kecamatan Karang Tanjung, Kecamatan Majasari, Kecamatan Kaduhejo.
Sementara itu, kawasan wisata pantai yang cukup terkenal berada di Carita, yang menjadi salah satu destinasi unggulan di Provinsi Banten.
Dengan sejarah panjang, kekayaan alam, serta peran strategis sebagai wilayah konservasi dunia, Kabupaten Pandeglang tidak hanya dikenal sebagai Kota Badak, tetapi juga sebagai daerah yang memiliki identitas kuat dalam sejarah dan budaya Banten.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan