BANTEN-Hujan deras yang mengguyur Kota Serang pada Senin malam, 27 Januari 2026, sekitar pukul 21.00 WIB, kembali menyebabkan banjir di wilayah Perumahan Bumi Agung Permai (BAP) 1, tepatnya di Jalan Aip Usman.
Ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar 50 sentimeter akibat luapan drainase yang tidak berfungsi optimal.
Ayub, warga Cilampampang yang ditemui di lokasi banjir, mengatakan genangan air terjadi karena aliran drainase tidak mengalir lancar. Menurutnya, banjir di kawasan tersebut sudah menjadi langganan setiap kali hujan turun, meskipun intensitas hujan tidak terlalu besar.
Baca juga: Harga Pangan di Pasar Rau Serang Relatif Stabil, Sejumlah Komoditas Justru Turun
“Setiap hujan pasti banjir. Tidak ada penanganan berarti dari pihak mana pun. Selama ini hanya warga sekitar yang berusaha membuka saluran kecil, tapi air tetap tidak lancar dan akhirnya menggenangi jalan,” ujar Ayub, 29 Januari 2026 saat berada di lokasi.
Ia menambahkan, kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena banyak kendaraan mogok, baik sepeda motor maupun mobil berjenis rendah. “Kalau hari ini hujan lagi, banjirnya pasti lebih besar,” katanya.
Ayub juga menduga banjir semakin parah sejak dibangunnya saluran drainase baru di sisi kanan dan kiri jalan. Namun, drainase tersebut dinilai tidak memiliki saluran pembuangan yang jelas, bahkan justru mengalirkan air ke arah Perumahan Bumi Agung Permai 1 yang berada di dataran lebih rendah.
Baca juga: Gubernur Andra Soni Terima Kepala BPS, Perkuat Koordinasi Data Pembangunan
“Air dari mana datangnya kita juga tidak tahu, tapi setiap hujan, meskipun kecil, sudah banjir. Harusnya air dari luar jangan diarahkan ke perumahan. Jangan dibuka lubang drainase yang malah membuat air masuk ke wilayah yang lebih rendah,” tegasnya.
Dampak banjir ini juga dirasakan oleh pelaku usaha di sepanjang Jalan Aip Usman. Sejumlah ruko, termasuk toko roti Adela dan sebuah klinik, terhambat aktivitasnya karena warga enggan melintas akibat takut kendaraannya mogok.
Romlih, warga Perumahan Mandala Citra, mengatakan banjir membuat aktivitas ekonomi dan mobilitas warga terganggu. “Pagi-pagi banyak motor mogok, terutama orang tua yang akan mengantar anak sekolah. Mereka buru-buru, tapi terhambat banjir,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Saiful, warga Perumahan BAP 1 sekaligus pengguna jalan. Ia mengaku motornya mogok saat hendak mengantar anak ke sekolah. “Kesal, Pak. Hujan sebentar saja sudah banjir. Anak saya jadi telat sekolah, saya harus dorong motor,” katanya.
Warga berharap pemerintah kota maupun provinsi segera mengambil langkah konkret untuk menangani banjir yang sudah berlangsung hampir satu tahun terakhir.
“Kalau begini terus, kasihan warga. Banyak yang mengeluh dan takut melintasi Jalan Aip Usman saat hujan,” tambah Saiful.
Sementara itu, Lurah Unyur, Nana Heryatna, saat dikonfirmasi Kabar Banten menyampaikan bahwa kejadian banjir tersebut telah dilaporkan sejak pukul 23.00 WIB pada 27 Januari 2026 kepada instansi terkait hingga pimpinan daerah.
“Semua sudah terdata sampai jam 03.00 dini hari. Untuk Jalan Aip Usman, solusinya hanya satu, yaitu mempercepat pekerjaan BPJT untuk memperlebar diameter gorong-gorong yang menyeberang ke BIP dan bermuara ke embung,” jelas Nana.
Ia mengakui, drainase baru di kanan kiri jalan memang merupakan upaya pemerintah untuk mengurai aliran air. Namun, karena saluran tersebut mentok di rel kereta dan tidak tembus, akhirnya air tertahan dan meluap saat debit tinggi.
“Kalau tidak mencukupi, ya wajar meluap. Tapi ini sifatnya sementara. Kuncinya BPJT harus segera bekerja memperlebar gorong-gorong di jalan tol. Kalau itu sudah berjalan, ditambah normalisasi embung, insyaallah masalah bisa teratasi,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan