BANTEN - Polemik ajang pencarian duta pariwisata Banten 2025 yang diselenggarakan oleh Duta Pariwisata Indonesia yang di dukung Kementerian Pariwisata, Dispar Provinsi Banten di ungkap salah satu peserta mulai dari penilaian tidak transparan.pengumuman tidak jelas hingga tawaran suap ke finalis.
Di ungkap IS salah satu finalis ajang pencarian duta pariwisata Banten 2025 meski mereka telah mengikuti tahapan seleksi namun hasil akhir tetap tim panitia yang menentukan.
Baca juga: banten.indozone.id/news/2486142536/rencana-demo-pedagang-kecil-soal-indomaret-point-di-terminal-pakupatan-di-tahan-kadis-dinkopukmperindag-kota-serang"> Rencana Demo Pedagang Kecil soal Indomaret Point Di Terminal Pakupatan Di Tahan Kadis DinkopUKMPerindag Kota Serang
"Yang penting saya yang rekomendasikan," Ceritas IS menirukan apa yang di sampaikan Direktur Duta Pariwisata Banten.
Kami ikuti proses panjang, lebih dari 6 (enam) bulan kami keluarkan banyak biaya, tenaga, dan waktu bahkan kami harus mengikutin aturan panitian untuk latihan menari menggunakan heels 13–15 cm selama dua hari, lanjutnya bercerita.
"latihan sampai larut malam, dipaksa sempurna, keliling venue seluas 5 hektar"
Dengan nada sedih IS menceritakan banyak finalis perempuan terjatuh dan memar. Padahal sebelumnya sudah ada peringatan dari medis dan narasumber untuk menghindari penggunaan heels dalam waktu lama karena akan menyebabkan varises.
"Hindari penggunaan heels terlalu lama karena bisa sebabkan varises, tapi panitia tetap lanjut tanpa pertimbangan. Kami tetap bertahan karena kami pikir ini ajang terhormat"
Baca juga: banten.indozone.id/news/2486142526/pembangunan-indomaret-point-di-terminal-pakutan-di-duga-tidak-kantongin-izin-pemkot-serang"> Pembangunan Indomaret Point di Terminal Pakutan Di Duga tidak Kantongin izin Pemkot Serang
Lebih lanjut IS menyampaikan semua perjuangan kami pupus di grand final. Karena kami merasa penilaian tidak transparan. Pengumuman juga tidak jelas. Dan yang paling mengecewakan adalah pernyataan dari Direktur Duta Pariwisata Banten.
"Buat apa ada proses seleksi panjang, buat apa kami berjuang kalau unjungan harus uang yang bicara,"
Saya tidak marah karena tidak menang, saya marah karena perjuangan kami dipermainkan. Karena kami tidak datang untuk sekadar selempang, kami datang membawa semangat memajukan pariwisata Banten, tegasnya.
Is mengatakan bahwa ada satu finalis yang ditanya langsung. "Kamu sanggup nggak bayar 5 juta buat nasional" sedangkan finalis lainnya tidak ditanya hal yang sama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan