BANTEN- Kota Serang merupakan salah satu daerah yang menyimpan warisan budaya paling penting di Provinsi Banten. Sebagian besar situs cagar budaya berada di kawasan Banten Lama yang pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banten pada abad ke-16 hingga ke-18. Selain memiliki nilai sejarah, bangunan-bangunan tersebut juga menyimpan kekayaan arsitektur yang memperlihatkan perpaduan budaya Nusantara, Islam, Tiongkok, Eropa, hingga Timur Tengah. Hingga kini, puluhan objek cagar budaya telah terdata sebagai bagian dari inventaris cagar budaya di Kota Serang.
Masjid Agung Banten.
Masjid Agung Banten merupakan ikon utama Kota Serang sekaligus cagar budaya peringkat nasional. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin sekitar tahun 1552, masjid ini menampilkan perpaduan arsitektur Jawa, Tiongkok, dan Eropa. Selasa, 21 Juli 2026.
Nilai Arsitektur pada masjid mulai dari atap bertumpang lima melambangkan filosofi Islam dan merupakan ciri khas masjid kuno Nusantara.
* Menara setinggi sekitar 24 meter memiliki bentuk menyerupai mercusuar yang dipengaruhi arsitektur Belanda.
* Bangunan utama menggunakan konstruksi tradisional dengan ruang salat yang luas tanpa kubah besar sebagaimana masjid modern.
* Kompleks masjid juga memiliki paviliun bergaya Belanda yang dirancang oleh arsitek Hendrick Lucasz Cardeel.
Masjid ini menjadi bukti akulturasi budaya yang berkembang di pelabuhan internasional Kesultanan Banten.
Menara Masjid Agung Banten.
Menara ini berdiri terpisah dari bangunan utama masjid dan menjadi salah satu landmark paling terkenal di Banten.
Nilai Arsitektur
* Berbentuk silinder menyerupai mercusuar Eropa.
* Memiliki tangga spiral di bagian dalam.
* Berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan sekaligus menara pengawas pelabuhan pada masa Kesultanan.
Perpaduan fungsi religius dan pertahanan menjadikan menara ini unik dibandingkan menara masjid lainnya di Indonesia.
Keraton Surosowan.
Keraton Surosowan merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Banten yang dibangun pada abad ke-16.
Nilai Arsitektur
* Menggunakan batu bata merah dan batu karang sebagai material utama.
* Memiliki sistem benteng dengan bastion pada setiap sudut.
* Tata ruang istana memperlihatkan konsep kota Islam yang berpadu dengan teknik pertahanan Eropa.
Meskipun kini hanya tersisa reruntuhan, struktur bangunannya masih memperlihatkan kemegahan istana Kesultanan Banten.
Keraton Kaibon.
Keraton Kaibon dibangun sebagai kediaman Ratu Aisyah, ibu Sultan Syafiuddin.
Nilai Arsitektur
* Mengusung gaya arsitektur klasik Kesultanan Banten.
* Memiliki gerbang lengkung yang megah.
* Tata ruang menunjukkan pembagian area privat dan publik secara jelas.
Baca juga: Bupati Serang Apresiasi Komunitas Musik Jalanan, Beri Motivasi Berkarya dan Berinovasi
* Ornamen bangunan sederhana namun tetap menunjukkan kemewahan kerajaan.
Keraton ini menjadi simbol peran perempuan dalam sejarah pemerintahan Kesultanan Banten.
5. Benteng Speelwijk
Benteng Speelwijk dibangun VOC pada abad ke-17 untuk memperkuat pertahanan kolonial di kawasan pelabuhan.
Nilai Arsitektur
* Mengadopsi desain benteng bergaya Eropa.
* Memiliki dinding tebal dari batu bata.
* Terdapat bastion di setiap sudut sebagai titik pertahanan.
* Memanfaatkan posisi strategis yang menghadap jalur perdagangan laut.
Benteng ini menunjukkan perkembangan teknologi militer kolonial di Nusantara.
6. Vihara Avalokitesvara
Vihara Avalokitesvara merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia.
Nilai Arsitektur
* Menggunakan arsitektur khas Tiongkok.
* Dominasi warna merah dan emas melambangkan keberuntungan.
* Atap melengkung dengan ornamen naga.
* Interior dipenuhi ukiran kayu serta altar tradisional.
Bangunan ini menjadi simbol toleransi dan kehidupan multikultural di Kota Serang sejak masa Kesultanan.
7. Masjid Kasunyatan
Masjid Kasunyatan diperkirakan berdiri pada abad ke-16 dan menjadi pusat penyebaran Islam.
Nilai Arsitektur
* Atap bertingkat khas Jawa.
* Dinding tebal dari bata merah.
* Memiliki kolam wudu tradisional.
* Mempertahankan bentuk asli bangunan tanpa banyak perubahan.
Masjid ini mencerminkan arsitektur Islam Nusantara pada masa awal penyebaran Islam di Banten.
8. Masjid Koja
Masjid Koja dibangun oleh komunitas Muslim keturunan India.
Nilai Arsitektur
* Memadukan gaya India, Timur Tengah, dan lokal.
* Memiliki dinding tebal serta bukaan ventilasi yang lebar.
* Menjadi bukti keberagaman etnis di kawasan pelabuhan Banten.
Baca juga: Festival Ciomas Ngabring 2026, 3.500 Anak-Anak Meriahkan Kegiatan Dengan Peragakan Tari Kolosal
Jembatan Rante
Jembatan bersejarah ini dahulu menjadi penghubung kawasan perdagangan Kesultanan.
Nilai Arsitektur
* Menggunakan konstruksi batu bata dan batu alam.
* Lengkungan jembatan menunjukkan teknik konstruksi klasik.
* Menjadi contoh infrastruktur kota pada masa Kesultanan.
Pelabuhan Karangantu
Pelabuhan Karangantu merupakan pelabuhan internasional Kesultanan Banten.
Nilai Arsitektur
* Tata ruang pelabuhan memperlihatkan sistem perdagangan maritim abad ke-16.
* Didukung gudang penyimpanan dan jalur distribusi barang.
* Menjadi pusat aktivitas perdagangan rempah dengan berbagai bangsa.
Nilai Penting Arsitektur Cagar Budaya Kota Serang
Keberadaan situs-situs cagar budaya di Kota Serang memiliki berbagai nilai penting, antara lain:
Nilai sejarah, sebagai bukti kejayaan Kesultanan Banten.
Nilai arsitektur, melalui perpaduan gaya Jawa, Sunda, Islam, Tiongkok, India, dan Eropa.
Nilai budaya, sebagai simbol toleransi dan interaksi berbagai etnis.
Nilai pendidikan, menjadi sumber pembelajaran sejarah, arkeologi, dan arsitektur.
Nilai pariwisata, sebagai daya tarik wisata sejarah dan religi yang mendukung perekonomian daerah.
Warisan arsitektur Kota Serang bukan hanya menjadi peninggalan fisik masa lalu, tetapi juga mencerminkan identitas masyarakat Banten sebagai daerah yang sejak dahulu terbuka terhadap berbagai peradaban dunia. Pelestarian situs-situs tersebut menjadi tanggung jawab bersama agar nilai sejarah, budaya, dan arsitekturnya tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan