Kamis, 11 DESEMBER 2025 • 20:00 WIB

Belasan Ribu Pohon Mulai Hijaukan Tanah yang Pernah Terluka

Author

Gubernur Banten Andra Soni sedang menanam pohon Lahan bekas tambang galian C di lingkungan Brigif TP 87/Salakanagara, Waringinkurung, Kabupaten Serang, Kamis (11/12).

BANTEN – Lahan bekas tambang galian C di lingkungan Brigif TP 87/Salakanagara, Waringinkurung, Kabupaten Serang, yang bertahun-tahun dibiarkan terluka, mulai menunjukkan tanda pemulihan. Kamis, 11 Desember 2025, kawasan itu dipenuhi aktivitas penanaman belasan ribu bibit pohon dalam rangka Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Pohon tingkat Provinsi Banten.

Baca juga: KLH Beri Tanggapan Positif Atas Penanganan Pencurian Besi Yang Terpapar Cesium- 137

Penanaman dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) bersama PATTIRO, TNI, kelompok masyarakat, pelajar, hingga ratusan perusahaan. Di atas tanah yang pernah rusak, ribuan orang bekerja bersama, seolah menjahit kembali robekan ekologis yang ditinggalkan aktivitas tambang.

Gubernur Banten Andra Soni yang hadir dalam kegiatan tersebut menyebut penanaman pohon sebagai kerja kolektif yang tak boleh berhenti pada seremoni tahunan. 

“Ini adalah gerakan bersama, seluruh unsur masyarakat harus terlibat. Lokasi ini dipilih karena pernah menjadi lahan tambang, lahan yang rusak harus dipulihkan,” kata Andra.

Menurutnya, keberadaan lahan kritis di Lebak dan Pandeglang menjadi penanda bahwa kerusakan lingkungan di Banten bukan persoalan kecil.

“Kolaborasi adalah kunci. Tambang ilegal, pembalakan hutan, semua itu menjadi tantangan yang berat. Tapi harus kita hadapi bersama,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur meluncurkan BANG KALIANDRA, gerakan daerah yang mendorong masyarakat mencatat aktivitas lingkungan seperti menanam pohon, membuat biopori, hingga merawat DAS. Gerakan ini menjadi penanda arah baru kebijakan lingkungan Banten yang menekankan partisipasi publik.

Kepala DLHK Banten, Wawan Gunawan, melaporkan bahwa tahun ini ditanam 19.089 bibit pohon, terdiri dari lebih dari 15 ribu tanaman kayu-kayuan dan hampir 4 ribu jenis buah (MPTS). Brigif 87 dan Yonif 841 menjadi lokasi utama penanaman dengan total 7.334 bibit, sementara sisanya disebar ke kelompok tani hutan, sekolah, dan batalyon TNI lainnya.

Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan tidak menyerap APBD. “Semua murni hasil kolaborasi dan CSR,” ujar Wawan.

Sebanyak 101 perusahaan tercatat terlibat dalam kegiatan ini. Kepala Bidang PPK DLHK Banten, Irwan Setiawan, menyebut partisipasi tersebut sebagai langkah positif yang harus dijaga dengan transparansi. 

“Dengan pelaporan yang jelas, mereka bisa melihat kontribusi yang dikeluarkan terkelola dengan baik,” katanya.

Irwan juga menyinggung kebutuhan mendesak penambahan personel PPLH untuk memperkuat pengawasan lingkungan. 

“Kami butuh minimal tiga sampai lima petugas tambahan. Ini penting agar pengawasan pencemaran dan kerusakan berjalan optimal,” ujarnya.

Direktur PATTIRO, Fitria Muslih, menilai kegiatan ini sebagai praktik baik pemerintahan kolaboratif.

“Selama ini program lingkungan sering hanya melibatkan pemerintah dan masyarakat. Kali ini lebih dari 100 perusahaan turun tangan. Ini menunjukkan kesadaran yang tumbuh,” katanya.

Ia menyebut perubahan wajah lahan bekas tambang yang mulai menghijau sebagai bukti bahwa rehabilitasi lingkungan bukan sekadar wacana. 

“Saat survei awal, tempat ini masih gersang. Hari ini ribuan lubang tanam sudah terisi. Ini bisa menjadi contoh daerah lain,” ujarnya.

Fitria juga menekankan bahwa keterlibatan perusahaan harus menjadi bagian dari penilaian PROPER. 

“Jika kontribusinya baik, itu nilai positif. Jika abai, pemerintah harus memberi sanksi,” tegasnya.

Selain penanaman, rangkaian kegiatan sosial turut digelar: pembagian 100 paket sembako, santunan 50 anak yatim, bantuan alat sekolah bagi 50 pelajar, pengobatan gratis untuk 200 warga, hingga penyerahan Piagam Sekolah Adiwiyata bagi 56 sekolah. Kampanye lingkungan melalui musik dan Pemilihan Perempuan Iklim 2025 ikut meramaikan acara.

Dari tanah bekas tambang hingga ruang kelas sekolah, HMPI 2025 di Banten menunjukkan bahwa merawat lingkungan tidak cukup dilakukan dengan satu kegiatan, melainkan melalui upaya yang melibatkan banyak lapisan masyarakat. Sebuah pesan yang, menurut Andra Soni, harus terus dirawat: menanam untuk masa depan yang lebih lestari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU