Klub sepak bola Persitangsel (Doc.Mamo Erfanto)
BANTEN-Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mungkin belum setenar daerah lain dalam peta sepak bola nasional. Namun di balik itu, geliat pembinaan dan eksistensi klub-klub lokal terus berkembang, menjadi fondasi penting bagi masa depan sepak bola di wilayah penyangga ibu kota ini.
Sepak bola di Tangerang Selatan berkembang seiring pertumbuhan kota yang relatif muda. Sejak berdiri sebagai daerah otonom pada 2008, Tangsel mulai membangun identitasnya, termasuk di bidang olahraga. Senin, 13 April 2026.
Pembentukan PSSI Tangerang Selatan menjadi tonggak penting dalam menata ekosistem sepak bola lokal. Organisasi ini berperan sebagai induk yang menaungi berbagai klub, kompetisi, hingga pembinaan usia dini di wilayah tersebut.
Liga lokal seperti Liga Sepak Bola Tangerang Selatan juga hadir sebagai wadah kompetisi yang mempertemukan klub-klub amatir hingga semi-profesional, sekaligus menjadi jalur pembinaan pemain muda.
Jika berbicara klub “milik” Tangerang Selatan secara formal, maka nama Persitangsel tidak bisa dilewatkan. Klub dengan nama lengkap Persatuan Sepakbola Indonesia Tangerang Selatan ini merupakan representasi resmi daerah dalam kompetisi nasional.
Persitangsel bermarkas di Stadion Mini Ciputat dan saat ini berlaga di kompetisi Liga 4 zona Banten. Klub ini dikenal dengan julukan “Laskar Cipasera”, yang mencerminkan identitas lokal masyarakat Tangsel.
Prestasi terbaik Persitangsel terjadi pada 2017, ketika mereka berhasil menjadi juara Liga 3 zona Banten. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa Tangsel memiliki potensi besar dalam melahirkan tim kompetitif di level regional.
Namun, tantangan utama Persitangsel bukan hanya soal prestasi, tetapi juga infrastruktur. Stadion Mini Ciputat yang menjadi kandang mereka masih memiliki keterbatasan, baik dari segi kapasitas maupun fasilitas pendukung.
Baca juga: Persikota Tangerang Identitas Klub Sepak Bola Daerah di Tengah Dinamika Sepak Bola Banten
Meski demikian, rencana pembangunan stadion berstandar nasional di wilayah Setu menjadi harapan baru bagi kemajuan klub ini di masa depan.
Selain Persitangsel, muncul pula klub yang membawa pendekatan lebih modern, yakni Serpong City FC. Klub ini lahir dari sekolah sepak bola (SSB) pada 2012 dan kemudian berkembang menjadi klub profesional yang berkompetisi di Liga 3 sejak 2021.
Serpong City FC dikenal dengan filosofi pembinaan usia dini yang kuat. Mereka fokus pada pengembangan pemain lokal dengan sistem akademi yang terstruktur, mengikuti standar nasional hingga internasional.
Julukan “Red Beast” yang disematkan kepada klub ini menggambarkan semangat agresif dan ambisi mereka dalam menembus level yang lebih tinggi di sepak bola Indonesia.
Kehadiran Serpong City FC menunjukkan bahwa sepak bola Tangsel tidak hanya bergantung pada klub berbasis pemerintah daerah, tetapi juga mulai berkembang melalui inisiatif swasta dan komunitas.
Tidak hanya di sektor pria, sepak bola perempuan di Tangsel juga mulai menunjukkan perkembangan signifikan. Salah satu pionirnya adalah Putri Tangsel City.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan