modifikasi pangan sebagai lauk atau cemilan yakni Nudelor ( Nugget daun kelor). (Doc.Mamo Erfanto)
BANTEN- Stunting menjadi permasalahan gizi nasional karena berpengaruh pada tumbuh dan kembang anak. Lingkungan yang tidak sehat, rendahnya ekonomi, kurangnya pengetahuan dan kesadaran menjadi pencetusnya. Berbagai program digalakkan di setiap lini guna pencegahannya, salah satunya kemitraan ini dalam berinovasi memandirikan kader-kader posyandu untuk melatih ibu-ibu yang memiliki bayi balita stunting untuk dapat membuat dan memberikan Nudelor (Nugget Daun Kelor) sebagai modifikasi lauk dalam perbaikan gizinya.
Pemberdayaan kader ini melibatkan keaktifan tiap pemangku kebijakan dimulai dari Ketua STIKes, Kepala Puskesmas Cipeucang, Tim Dosen STIKes Salsabila Serang, Para Kader posyandu serta dibantu oleh tim Mahasiswa sebagai peran keilmuwan yang bermanfaat. Kegiatan ini dipimpin oleh Filda Fairuza, S.ST.,Bd.,M.Kes.
Kegiatan ini adalah pengabdian kepada masyarakat salah satu pilar dari tri darma perguruan tinggi.
Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan di Desa Koncang, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang yang dilakukan oleh Tim Dosen dan Mahasiswa STIKes Salsabila Serang guna turut serta menurunkan angka stunting. Tujuan dari kegiatan ini adalah memandirikan kader posyandu dalam meningkatkan kreativitas, pengetahuan dan ketrampilan pembuatan lauk yang dimodifikasi sebagai dukungan gerakan anti stunting (GASING) melalui sosialisasi yang berisi penyuluhan dan teknis pembuatan lauknya serta kegiatan pelatihan itu sendiri.
Pemberdayaan kader
Modifikasi lauk Nudelor ini merupakan temuan baru dalam bidang pangan melalui serangkaian uji gizi bertujuan sebagai solusi dari angka stunting di Desa Koncang Kecamatan Cipeucang. Hal ini adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat berbasis analisa gizi yang terukur dengan bahan ekonomis berupa daun kelor dan ayam yang bernilai sarat protein.
Berdasarkan hasil analisis gizi makro pada formula nugget 1 kandungan gizinya paling baik, berprotein 13,94 gram per 100 gram dibandingkan nugget pada umumnya yang menjadi bahan produksi dan didistribusikan di market.
Kegiatan sosialisasi yang dilakukan berupa pemberian edukasi dengan metode pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan secara mandiri serta aplikatif melalui beberapa cara yakni penyajian informasi, tanya jawab serta demonstrasi juknisnya audiovisual.
Masyarakat begitu antusias dalam kegiatan tersebut bahkan saat demostrasi pembuatan nudelor tiap-tiap peserta aktif dalam bertanya bahkan sebagian turut serta dalam mempraktikannya. Demonstrasi ini dituntaskan hingga nudelor tersebut siap dikonsumsi sehingga langsung diberikan kepada peserta.
Respon baik dari nudelor ini, peserta mengatakan bahwa modifikasi lauk ini sangat mudah dibuat dan ekonomis karena di Desa Koncang ini kaya akan daun kelor serta rasanya bikin nagih jadi tidak hanya dapat dijadikan lauk tapi dapat juga dijadikan selingan waktu makan.
Hasil dan Dampak Positif
Pengukuran pemahaman menggunakan kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur pengetahuan para kader posyandu sebagai peserta.
Kuesioner ini terdiri dari identitas peserta dan 15 pertanyaan terkait pengetahuan tentang stunting. Sebelum pelatihan terdapat 53 % berpengetahuan rendah dan setelahnya 85 % mengalami peningkatan pada pengetahuan baik terkait stunting.
“adanya feedback yang baik terlihat dari hasil pre test dan post test dimana tingkat pemahaman meningkat signifikan adalah bukti berhasilnya kegiatan pengabdian ini memberdayakan setiap komponen yang terlibat dalam perubahan sikap positif untuk ke depannya”, tutur Bd. Filda.
Respon positif dari Kepala Puskesmas Kecamatan Cipeucang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Rilis