Masa aksi saat di hadang aparat Kepolisian di Kota Serang Banten (doc.Mamo erfanto)
BANTEN - Masa aksi di Kota Serang yang melakukan aksi sejak sore hari di simpang empat Ciceri Kota Serang mulai tak kendali menjelang malam hari, usai membakar pos polisi masa aksi mengarah ke Mapolres Serang Kota untuk melanjutkan aksi, namun kedatang langsung di pukul mundur petugas menggunakan gas air mata. Sabtu 30 Agustus 20205.
masa aksi dipukul mundur oleh Polisi dari Polresta Serang Kota dan Polda Banten sekira pukul 21:00 WIB.
Pada aksinya yang dimulai pada pukul 16:00 WIB hingga pukul 21:00 WIB, sempat bersitegang saling serang antara masa aksi dengan polisi.
Bahkan, masa aksi sempat melakukan pembakaran kantor Pos Polisi Ciceri Kota Serang, bakar foto Kapolri hingga bakar ban di Bundaran Ciceri, Kota Serang.
Dalam kesempatan itu juga akses Jalan Jenderal Ahmad Yani, Jalan Jenderal Soedirman, hingga Jalan Trip Jamaksari lumpuh total.
Koordinator Aksi, Abroh Nurul Fikri menegaskan bahwa, gerakan ini lahir sebagai bentuk protes terhadap kesenjangan sosial dan perilaku pejabat yang dinilai sarat dengan praktik korupsi.
“Sebetulnya aksi ini kami lakukan sebagai bentuk protes terhadap kesenjangan yang terjadi serta perilaku pejabat yang menunjukkan bahwa negara kita sarat korupsi dan gagal mensejahterakan masyarakat,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa rentetan aksi yang berlangsung sejak 25 hingga 28 Agustus lalu telah menghadapi represivitas aparat.
Bahkan, kata dia, peristiwa tewasnya seorang driver ojek online yang terlindas kendaraan taktis saat aksi di Jakarta menjadi bukti nyata kebrutalan aparat.
“Banyak korban berjatuhan, bahkan lebih parahnya, negara seolah berniat memberangus hingga membunuh rakyatnya. Kita bisa lihat pada kejadian kemarin, di mana seorang driver ojol sengaja dilindas oleh aparat kepolisian. Itu jelas menunjukkan ketidakmanusiawian dan watak rezim hari ini, yang seolah sengaja membunuh rakyat melalui penanganan gerakan masyarakat,” tegasnya.
Abroh menambahkan, kejadian tersebut menjadi catatan kelam yang mencerminkan wajah negara semakin jauh dari nilai demokrasi dan keadilan.
Menurutnya, kesejahteraan masyarakat masih belum terjamin, sementara di sisi lain elit politik justru mengambil keuntungan.
“Kebrutalan aparat mencerminkan wajah negara yang semakin tidak demokratis. Karena itu, hari ini mahasiswa, pelajar, elemen masyarakat, dan teman-teman suporter melebur dalam Aliansi Simpul Sipil Banten. Ini adalah bukti bahwa perlawanan di Banten masih terus ada,” katanya.
Baca juga: Demo Mahasiswa Di Banten Memanas Pos Polisi Di Bakar
Dalam aksinya, massa menyuarakan sejumlah tuntutan. Mereka mendesak negara untuk menghentikan represivitas terhadap gerakan rakyat, menegakkan hak asasi manusia, memperbaiki sistem pemerintahan, serta menolak rencana kenaikan gaji DPR.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan