kanan Diana Guru pembina PASKIBRA SMAN 1 Kota Serang (Doc.Mamo erfanto)
BANTEN- Kronologi awal kejadian pemukulan siswa SMAN 1 Kota Serang terjadi pada tanggal 13 Agustus 2025, pihak sekolah mendapatkan laporan di malam hari bahwa terjadi pemukulan usai latihan rutin di stadion Maulana Yusuf.
Diana guru pembina PASKIBRAKA SMAN 1 Kota Serang menjelaskan kronologi kejadian pemukulan tesebut terjadi pada sore hari usai latihan selesai. Setiap hari kami rutin latihan Lomba Tata Upacara Bendera (LTUB) pada hari kejadian tersebut tim PASKIBRAKA SMA 1 sedang tidak di latih Purna Paskibraka Indonesia (PPI). karena PPI tengah melatih PASKA Kota Serang. Selasa 30 September 2025.
"Karena waktu itu Purna Paskibraka Indonesia (PPI) tengah melatih PASKA Kota Serang, tapi karena kita akan ikut Lomba LTUB dan waktunya mepet, kemudian saat itu ada tawaran dari alumni untuk melatih maka kita iyakan,"
Karena kami merasa selama ini para alumni tidak bermasalah, dan selama sekolah mereka tidak memiliki catatan jelek, maka kita terima tawaran tersebut. Kemudian pada hari kejadian saya juga kebetulan tidak bisa hadir dalam latihan karena fokus dengan upacara 17 Agustus di Sekolahan lanjut Diana menceritakan kronologi kejadianya.
"Biasanya setelah selesai persiapan upacara 17 Agustus di Sekolah, saya ke lokasi latihan LTUB, namun pada hari kejadian saya tidak bisa karena kesibukan di Sekolah,"
Diana Lebih lanjut menjelaskan pada hari kejadian tersebut, sebenarnya latihan sudah selesai, tidak ada masalah selama latihan. Kemudian untuk di ketahui saat latihan tersebut bukan hanya LTUB yang hadir, tapi ada PASKIBRA, SMANSA Voise dan OSIS.
Kejadian tersebut berawal saat para siswa akan pulang, pada saat selesai latihan sebagai anak sudah pulang, tinggal SMANSA Voise dan Alumni, di waktu yang bersamaan korban juga ingin pulang, namun saat akan pulang, menurut keterangan saksi yang ada disitu dan menurut yang lain, korban menggerung gerungkan motornya sebelum pulang lanjut Diana menjelaskan.
"Jadi motor yang di pakai korban ini, bukan motor yang standar pabrikan tapi sudah di modifikasi, dari knalpotnya bukan standar lagi, kita ada bukti motor korban,"
Karena di gerung gerung, orang orang yang di sekitar lokasi merasa terganggu dan bertanya (Satgas Whusu) siapa itu yang gerung gerung motor. Kemudian ada yang menjawab bahwa itu anak LTUB, ini menurut keterangan anak anak LTUB, karena besoknya saya langsung panggil anak anak ini.
Lebih lanjut Diana menjelaskan yang bersangkutan langsung pergi, langsung kebut dengan motornya, maka anak anak yang masih di situ di suruh push up oleh Satgas yang berada di kawasan Stadion sebagai hukuman karena temenya menggerung gerungkan motor.
"akhirnya anak anak disitulah yang mendapatkan hukuman atas perbuatan temanya (korban) termasuk Alumni juga di suruh push up,"
Kemudian Satgas Whusu juga meminta anak anak LTUB yang masih di situ untuk memanggil (korban) agar kembali ke stadion untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya.
Pada saat itu, anak anak yang masih berada di stadion, kemudian melakukan chat whatsapp grup meminta korban untuk kembali, mungkin karena korban tengah di jalan dan tidak mengetahui pesan whatsapp tersebut korban tidak kembali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan