Jumat, 09 JANUARI 2026 • 14:17 WIB

Janggal: Hanya Sampah Dari Tangsel Yang Ditolak ke TPAS Cilowong

Author

Spanduk penolakan sampah Tangsel (Doc.Mamo Erfanto)

BANTEN - Pengelolaan sampah di TPAS Cilowong oleh Pemerintah Kota Serang telah mendatangkan kerjasama dengan beberapa daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, seperti Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon.

Kepala UPT TPA Cilowong, Agam, ketiga wilayah itu mengirimkan sampah ratusan ton setiap harinya.

"Kabupaten Serang sampah setiap hari di kirim. Untuk Kota Cilegon belum, kalau PESL (Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik,) jadi Cilegon juga bekerjasama," katanya, melalui sambungan telepon, Kamis, 9 Januari 2026.

Lebih lanjut Agam menjelaskan, dari kerjasama tersebut pihaknya menerima retribusi pengelolaan sampah sebesar Rp317.000 setiap ton.

Baca juga: 3 Unit Rumah Layak Huni Untuk Masyarakat Sekitar Bandara Soekarno Hatta dari Program TJSL

Baca juga: Berikut Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/ 2026 Untuk Wilayah Kota Serang Banten

Disisi lain, kerjasama pembuangan dari Kota Tangerang Selatan mendapat protes. s

Sejumlah pihak menolak pembuangan sampak di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Cilowong. Namun anehnya, penolakan hanya pada pembuangan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Tangsel. 

Aksi penolakan pembuangan sampah Tangsel oleh sejumlah pihak ini pun disorot Koordinator Forum Mahasiswa Serang Raya, Muhamad Lutfi.

Lutfi menilai, kerjasama pengelolaan sampah antara daerah, seperti dengan Kabupaten Serang dan Tangerang Selatan memiliki banyak dampak positif, jika pengelolan TPA Cilowong dilakukan maksimal.

"Apalagi TPA Cilowong ini diproyeksikan menjadi sumber energi masa depan di Banten dengan dibangunnya PSEL oleh Danantara tahun ini," kata Lutfi.

Sementara Guru Besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Prof. Muhadam Labolo memberikan saran kepada pemerintah daerah dalam hal pengelolaan sampah yang saat ini menjadi problem bersama.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu mengembangkan kerjasama tidak hanya soal pembuangan sampah ke tempat tertentu, tetapi perlu memperhatikan pertama, pertukaran informasi dan teknologi.

"Artinya daerah-daerah bisa saling berbagi pengalaman dan teknologi pengelolaan sampah yang efektif. Jadi bukan hanya salah satu jadi pemasok yang lain jadi korban," ujar Prof. Muhadam Labolo.

Saran berikutnya, kata dia, perlu pengelolaan bersama. Maknanya daerah bisa bekerja sama mengelola TPA secara bersama-sama untuk menghemat biaya dan meningkatkan efisiensi (win-win solution). 

"Ketiga, perlu meningkatkan koordinasi pengangkutan sampah. Daerah dapat bekerja sama dalam pengangkutan sampah untuk mengurangi biaya dan meningkatkan efektivitas,” sambungnya.

Saran terakhir yakni perlu adanya peningkatan program edukasi bersama. Hal tersebut berkaitan dengan partisipasi masyarakat dan pihak ketiga melalui program edukasi dan kampanye pengelolaan sampah yang tepat kepada masyarakat secara kolektif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU