Sabtu, 30 AGUSTUS 2025 • 14:46 WIB

Dari Daging hingga Media Sosial, Kolaborasi Halal Digaungkan di SHAFARA dan FERBA 2025

Author

Sharia Festival Jawara (SHAFARA) dan Festival Rupiah (FERBA) 2025 menghadirkan acara Casual Talk Halal Food di Bintaro Jaya Xchange Mall 2, Tangerang Selatan, Sabtu (30/8/2025).

BANTEN – Rangkaian Sharia Festival Jawara (SHAFARA) dan Festival Rupiah (FERBA) 2025 menghadirkan acara Casual Talk Halal Food di Bintaro Jaya Xchange Mall 2, Tangerang Selatan, Sabtu (30/8/2025).

Baca juga: BI Banten Buka SHAFARA dan FERBA 2025, Soroti Tren Positif Ekonomi Syariah Indonesia

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua Komite Pengembangan Organisasi Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Eden Gunawan, F&B Business Owner Dian Widiyawati, serta Founder PT Damory Food Indonesia Group Mori Satria. 

Kegiatan dipandu oleh Mujang Kurnia dengan mengangkat tema “Ekosistem Kuliner Halal Banten yang Kuat sebagai Kontributor Visi Indonesia Menjadi Pusat Halal Dunia.”

Dalam pemaparannya, Eden Gunawan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat sosialisasi produk halal di tengah masyarakat. 

Ia menyoroti masih terbatasnya rumah potong hewan dan unggas, padahal kebutuhan daging dan ayam sangat tinggi, terutama di sektor UMKM.

“Kita harus bersinergi dengan pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, masyarakat sipil, dan media. Saat ini, peran para pemangku kepentingan masih berjalan cukup lambat,” ujarnya. 

Eden juga mengusulkan inisiatif Duta Halal yang melibatkan generasi muda sebagai upaya menumbuhkan kesadaran halal sejak dini.

Sementara itu, Dian Widiyawati menekankan rendahnya pemahaman masyarakat terkait produk halal, meski mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Menurutnya, sertifikat halal penting sebagai jaminan keamanan konsumsi.

“Banyak isu non-halal ada di sekitar kita. Kalau ragu, lebih baik bertanya. Sertifikat halal menjadi jaminan bagi kita untuk tenang dalam mengonsumsi apapun,” jelas Dian. 

Ia menambahkan, media sosial kini menjadi penggerak utama perubahan pasar. “Jika konsumen muslim peduli pada halal, pelaku usaha pun akan menyesuaikan," ujarnya.

Di sisi lain, Mori Satria menegaskan komitmen perusahaannya menghadirkan produk halal sekaligus thayyib atau baik. Menurutnya, makanan halal harus identik dengan kualitas premium dan sehat, serta menjadi jalan berbagi manfaat bagi umat.

“Makanan yang masuk ke tubuh akan menjadi darah dan daging. Kalau makanan haram, itu bisa menutup jalan kita dalam menerima kebenaran. Karena itu, kami sangat concern menyediakan makanan yang halal sekaligus thayyib,” ungkapnya.

Mori menilai bisnis halal bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga sarana amal shaleh. 

“Kita harus punya ilmu, mentor, dan menjadikan bisnis halal sebagai amal bermanfaat bagi umat,” pungkasnya.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU