Kebun kurma di Madinah (Doc.Antara foto)
BANTEN – Nama Salman al-Farisi (Salman Al-Farizi) dikenal sebagai salah satu sahabat mulia Rasulullah SAW yang memiliki kisah perjuangan luar biasa dalam mencari kebenaran. Salah satu bagian penting dalam perjalanan hidupnya adalah kisah kebun kurma yang menjadi simbol kemerdekaan dan pertolongan Allah SWT melalui Rasul-Nya.
Salman Al-Farizi berasal dari Persia (Iran). Ia meninggalkan kampung halamannya demi mencari agama yang benar. Setelah melalui berbagai perjalanan dan berguru kepada sejumlah pendeta, ia akhirnya sampai di Jazirah Arab dan diperjualbelikan sebagai budak hingga tiba di Madinah.
Di Madinah, Salman bekerja di kebun kurma milik tuannya yang berasal dari kalangan Yahudi. Di sanalah ia mendengar kabar tentang diutusnya seorang nabi akhir zaman, yaitu Muhammad.
Baca juga: Menyambut Ramadan 1447 H, Wagub Banten Dimyati Tekankan Penguatan Iman dan Kepedulian Sosial
Setelah bertemu dan menyatakan keimanannya kepada Rasulullah SAW, Salman ingin memerdekakan diri. Namun, tuannya memberikan syarat yang berat: Salman harus menanam dan menumbuhkan 300 pohon kurma hingga berbuah, serta membayar sejumlah emas sebagai tebusan.
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW mengajak para sahabat untuk membantu. Para sahabat mengumpulkan bibit kurma, lalu Rasulullah sendiri yang menanamnya satu per satu dengan tangan beliau.
Menurut laporan situs Masrawy.com, sebanyak 300 pohon kurma yang dahulu ditanam langsung oleh Nabi Muhammad bersama para sahabat kini menjadi jejak sejarah hidup yang masih bertahan di kawasan Al-‘Awali, Madinah. Di lokasi tersebut, terdapat sumur tua yang dikenal dengan nama Bi’r Al-Fuqair atau Well of Salman Al-Farisi. Sumur ini dipercaya berperan dalam menyiram kebun kurma tersebut pada masa awal penanaman.
Atas izin Allah SWT, seluruh pohon kurma yang ditanam Rasulullah SAW tumbuh subur dan hidup, kecuali satu pohon yang ternyata ditanam bukan oleh beliau. Setelah dicabut dan ditanam ulang langsung oleh Rasulullah SAW, pohon tersebut pun tumbuh dengan baik.
Baca juga: Sekda Banten Tegaskan Layanan RSUD Banten Selama Ramadan Tetap Utamakan Pertolongan Pertama
Selain 300 pohon kurma, syarat lainnya adalah sejumlah emas. Rasulullah SAW kemudian memberikan emas kepada Salman, dan dengan pertolongan Allah, jumlahnya mencukupi untuk membebaskannya.
Sejak saat itu, Salman Al-Farizi menjadi sahabat yang merdeka dan berkontribusi besar dalam perjuangan Islam, termasuk dalam strategi Perang Khandaq (Perang Parit).
Kisah kebun kurma Salman Al-Farizi bukan sekadar cerita tentang pertanian, tetapi simbol perjuangan, kesabaran, dan pertolongan Allah SWT. Kebun kurma tersebut menjadi saksi mukjizat Rasulullah SAW serta bukti kuat ukhuwah (persaudaraan) antara sesama Muslim.
Hingga kini, kisah ini sering dijadikan pelajaran tentang arti pengorbanan dalam mencari kebenaran dan pentingnya saling membantu dalam kebaikan.
Kebun kurma Salman Al-Farizi menjadi bagian dari sejarah Islam yang mengajarkan bahwa di balik kesulitan, selalu ada pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam keimanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan