Gubernur Banten bersama ratusan pelajar Menengah Atas (Doc.Mamo Erfanto)
BANTEN – Kebijakan Program Sekolah Gratis yang digulirkan Pemerintah Provinsi Banten sejak tahun 2025 mulai menunjukkan dampak positif terhadap sektor pendidikan. Hal itu terlihat dari meningkatnya rata-rata lama sekolah serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Banten berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).
BPS Provinsi Banten mencatat rata-rata lama sekolah masyarakat Banten pada tahun 2025 mencapai 9,56 tahun. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 9,23 tahun. Kenaikan ini berjalan seiring dengan meningkatnya IPM Provinsi Banten yang naik dari 76,35 poin pada 2024 menjadi 77,25 poin pada 2025.
Peningkatan berbagai indikator pendidikan tersebut dinilai tidak terlepas dari implementasi Program Sekolah Gratis yang mulai menyasar sekolah swasta tingkat SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) sejak tahun lalu.
Baca juga: Pemkab Serang Tegaskan Tidak ada Pungli Dalam Penerimaan Murid Baru TA 2026/2027 SDN dan SMPN
Pada tahun pertama pelaksanaannya, program tersebut menjangkau sekitar 801 sekolah swasta di seluruh Provinsi Banten dengan total penerima manfaat mencapai 60.705 siswa. Program ini hadir sebagai solusi atas keterbatasan daya tampung sekolah negeri yang selama ini menjadi persoalan tahunan saat penerimaan peserta didik baru.
Memasuki tahun kedua, Pemerintah Provinsi Banten memperluas cakupan program. Jika sebelumnya hanya menyasar siswa kelas X, kini program tersebut juga diberikan kepada siswa kelas XI dengan jumlah kuota yang sama. Bahkan pada Tahun Ajaran 2026-2027, Pemprov Banten juga mulai menggratiskan pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) untuk seluruh tingkatan kelas dengan target penerima manfaat mencapai 10.000 siswa.
Program yang digagas Gubernur Banten Andra Soni bersama Wakil Gubernur Dimyati Natakusumah itu dinilai berhasil membuka akses pendidikan yang lebih luas dan merata bagi masyarakat, khususnya keluarga kurang mampu.
ilustrasi (Doc.Mamo Erfanto)
Selain memberikan kesempatan kepada lebih banyak anak untuk tetap melanjutkan pendidikan menengah, kebijakan tersebut juga meningkatkan daya tarik sekolah swasta yang selama ini sering kalah bersaing dengan sekolah negeri.
Kepala SMA PGRI 56 Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Buyung Tarmidzi mengungkapkan bahwa Program Sekolah Gratis telah membawa perubahan signifikan terhadap jumlah peserta didik di sekolahnya. Sabtu, 13 Juni 2026.
"Sebelum adanya program itu, jumlah siswa yang mendaftar di sini lebih sedikit, sekitar 60 siswa. Namun setelah Program Sekolah Gratis diberlakukan tahun lalu, jumlah siswa baru kelas X meningkat menjadi 90 orang. Saat ini total siswa kami mencapai 146 orang," ujar Buyung.
Menurutnya, peningkatan jumlah siswa tersebut sebagian besar berasal dari calon peserta didik yang tidak tertampung di sekolah negeri, khususnya SMAN 1 dan SMAN 5 Ciputat.
Ia menilai keberlanjutan program hingga kelas XI akan menjadi motivasi bagi sekolah swasta untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dan profesionalisme tenaga pendidik.
"Dengan adanya dukungan ini, kami optimistis kualitas sekolah swasta ke depan bisa semakin baik dan setara dengan sekolah negeri," katanya.
Manfaat program tersebut juga dirasakan langsung oleh para siswa. Zikri (17), salah satu penerima manfaat yang kini duduk di bangku kelas X, mengaku kebijakan tersebut sangat membantu keluarganya secara ekonomi.
Ia menceritakan bahwa kedua orang tuanya bekerja dengan penghasilan terbatas. Sang ibu berjualan ayam potong, sementara ayahnya bekerja sebagai satpam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan