Sabtu, 13 JUNI 2026 • 18:54 WIB

Manajemen Sumber Daya Manusia di Era Society 5.0: Menyelaraskan Teknologi dan Humanisme

Author

Meili Bugis, S.E., M.M., dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang Kampus Kota Serang. (Doc.Mamo Erfanto)

BANTEN – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara organisasi mengelola sumber daya manusia (SDM). Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), big data, Internet of Things (IoT), hingga sistem otomatisasi telah menciptakan efisiensi dan kemudahan dalam dunia kerja. Namun di tengah derasnya arus transformasi digital tersebut, muncul konsep baru yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi, yakni Society 5.0.

Konsep Society 5.0 pertama kali diperkenalkan oleh Jepang sebagai visi masyarakat masa depan yang mampu memanfaatkan teknologi canggih untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial sekaligus meningkatkan kualitas hidup manusia. Berbeda dengan Revolusi Industri 4.0 yang lebih menitikberatkan pada digitalisasi dan otomatisasi, Society 5.0 hadir dengan pendekatan yang lebih humanis, yaitu mengintegrasikan teknologi dengan kebutuhan serta kesejahteraan manusia.

Baca juga: Pemasaran Digital Jadi Solusi Peningkatan Pendapatan di Era Revolusi Industri 5.0

Dalam konteks tersebut, Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) memiliki peran strategis sebagai jembatan yang menghubungkan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Organisasi tidak lagi hanya dituntut mengadopsi teknologi terbaru, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut mampu mendukung pengembangan potensi dan kualitas hidup para pekerjanya.

Menurut Meili Bugis, S.E., M.M., dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang Kampus Kota Serang, transformasi digital telah mengubah fungsi MSDM secara signifikan. Jika sebelumnya MSDM lebih banyak berkutat pada administrasi kepegawaian, kini perannya berkembang menjadi mitra strategis yang membantu organisasi menghadapi dinamika lingkungan bisnis yang terus berubah.

"MSDM saat ini tidak hanya bertugas mengelola tenaga kerja, tetapi juga harus mampu mengembangkan kompetensi digital karyawan, mengelola talenta, serta menciptakan budaya kerja yang adaptif terhadap perubahan teknologi," ujarnya.

Baca juga: Melawan Petugas Saat Akan Diringkus, Kawanan Pencuri Mobil Box Dilumpuhkan

Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan SDM memberikan berbagai manfaat bagi organisasi. Proses rekrutmen misalnya, kini dapat dilakukan secara lebih efektif melalui sistem digital yang mampu menyaring kandidat berdasarkan kompetensi dan kebutuhan perusahaan. Teknologi juga memungkinkan perusahaan menyelenggarakan pelatihan daring (*online learning*) sehingga karyawan dapat meningkatkan keterampilannya secara fleksibel tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Selain itu, penggunaan analisis data dalam MSDM membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih akurat terkait pengembangan karier, produktivitas, hingga retensi karyawan. Dengan dukungan teknologi, organisasi dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan SDM secara lebih cepat dan tepat sasaran.

Meski demikian, kecanggihan teknologi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan organisasi. Faktor manusia tetap menjadi aset utama yang tidak dapat tergantikan oleh mesin. Kreativitas, empati, kemampuan berkomunikasi, kerja sama tim, serta kemampuan berpikir kritis merupakan kompetensi yang hingga kini masih menjadi keunggulan manusia dibandingkan teknologi.

Oleh karena itu, penerapan teknologi dalam lingkungan kerja harus tetap memperhatikan aspek kemanusiaan. Organisasi perlu memastikan bahwa penggunaan teknologi tidak menghilangkan interaksi sosial, rasa kebersamaan, maupun kenyamanan kerja yang menjadi kebutuhan dasar setiap individu.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi MSDM di era Society 5.0 adalah menjaga keseimbangan antara efisiensi teknologi dan kesejahteraan karyawan. Ketergantungan yang berlebihan terhadap sistem digital berpotensi menimbulkan tekanan kerja, stres, hingga menurunnya kualitas hubungan antarpegawai.

Untuk menjawab tantangan tersebut, organisasi perlu menerapkan pendekatan yang berorientasi pada manusia (*human-centered approach*). Perhatian terhadap kesehatan mental, kepuasan kerja, serta keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan (*work-life balance*) harus menjadi bagian dari strategi pengelolaan SDM.

Di sisi lain, peningkatan kompetensi juga menjadi agenda yang tidak dapat diabaikan. Perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat menuntut setiap individu untuk terus belajar dan beradaptasi. Program *upskilling* dan *reskilling* menjadi langkah penting agar tenaga kerja tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja masa depan.

Karyawan yang mampu menguasai teknologi digital sekaligus memiliki keterampilan interpersonal yang baik akan menjadi aset strategis bagi organisasi. Kombinasi kemampuan teknis dan kecakapan sosial tersebut diyakini menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi era Society 5.0.

Peran pemimpin organisasi juga mengalami perubahan. Kepemimpinan di era Society 5.0 tidak hanya berorientasi pada pencapaian target dan produktivitas, tetapi juga harus mampu membangun budaya kerja yang kolaboratif, inklusif, dan humanis. Pemimpin dituntut menjadi fasilitator yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan teknologi tanpa mengabaikan kebutuhan manusia sebagai penggerak utama organisasi.Manajemen Sumber Daya Manusia di Era Society 5.0

Pada akhirnya, Society 5.0 mengajarkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan menggantikannya. Dalam dunia kerja, teknologi dan manusia bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua elemen yang harus berjalan beriringan.

Organisasi yang mampu menyelaraskan inovasi teknologi dengan nilai-nilai humanisme akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan masa depan. Keseimbangan antara keduanya menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang produktif, adaptif, sekaligus berorientasi pada kesejahteraan manusia.

Dengan demikian, Manajemen Sumber Daya Manusia di era Society 5.0 harus mampu menjadi penghubung antara kemajuan teknologi dan kebutuhan manusia. Sinergi inilah yang akan menentukan keberhasilan organisasi dalam membangun masa depan yang lebih berkelanjutan, inovatif, dan berpusat pada manusia.

Oleh: Meili Bugis, S.E., M.M Dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang Kampus Kota Serang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU