Mahasiswa KKM UPG Kelompok 43 Dampingi UMKM Lestarikan Kue Tradisional Khas Banten di Kasemen
BANTEN – Di tengah gempuran makanan modern, jajanan tradisional khas Banten masih bertahan berkat kegigihan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Upaya menjaga warisan kuliner tersebut kini mendapat dukungan dari mahasiswa Universitas Primagraha (UPG) yang tengah menjalani Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) di Kelurahan Masjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.
Melalui program pendampingan UMKM, para mahasiswa tidak hanya datang sebagai tamu, tetapi ikut terlibat langsung dalam proses produksi dua sentra usaha yang memproduksi Kue Gipang dan Kue Satu, dua kuliner tradisional yang telah lama menjadi identitas masyarakat Banten.
Pada Sabtu (4/7/2026), belasan mahasiswa beralmamater jingga atau oranye tampak membaur bersama para pelaku usaha. Mereka mengamati proses pembuatan, membantu aktivitas produksi, sekaligus mempelajari tantangan yang dihadapi UMKM dalam mempertahankan eksistensi produknya di tengah persaingan pasar.
Mahasiswa KKM UPG Kelompok 43 Dampingi UMKM Lestarikan Kue Tradisional Khas Banten di Kasemen Kegiatan tersebut merupakan salah satu program unggulan kelompok KKM di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Hayumi, pendampingan difokuskan pada penguatan potensi ekonomi lokal melalui pemberdayaan pelaku usaha kecil.
Ketua Kelompok KKM, Erik, mengatakan keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata, tidak hanya melalui program sosial, tetapi juga dengan mendukung pengembangan usaha yang menjadi sumber penghidupan warga.
"Melalui pendampingan ini kami ingin belajar langsung dari masyarakat sekaligus memberikan kontribusi sesuai kemampuan yang kami miliki. UMKM seperti ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang apabila didukung dari sisi promosi, pemasaran, maupun inovasi," ujarnya.
Selain mengenal proses produksi, mahasiswa juga berdiskusi dengan pelaku UMKM mengenai berbagai peluang pengembangan usaha, mulai dari peningkatan kualitas kemasan, strategi pemasaran digital, hingga upaya memperluas jangkauan pasar tanpa menghilangkan cita rasa autentik yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dosen Pembimbing Lapangan KKM UPG, Hayumi, menilai kegiatan tersebut menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, mahasiswa harus mampu hadir sebagai mitra masyarakat yang memberikan solusi sekaligus belajar dari potensi yang dimiliki lingkungan sekitar.
"Mahasiswa tidak hanya menjalankan program KKM sebagai kewajiban akademik, tetapi juga diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat. Potensi lokal seperti UMKM kuliner tradisional perlu terus didorong agar mampu berkembang sekaligus tetap menjaga identitas budaya daerah," katanya.
Melalui pendampingan tersebut, mahasiswa KKM Universitas Primagraha berharap keberadaan UMKM pembuat Kue Gipang dan Kue Satu tidak hanya bertahan sebagai usaha keluarga, tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan daerah yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Bagi mahasiswa, pengalaman terjun langsung ke sentra UMKM menjadi pembelajaran berharga bahwa pembangunan masyarakat tidak selalu dimulai dari program besar, tetapi dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni mendampingi pelaku usaha lokal agar tetap tumbuh dan mampu melestarikan warisan kuliner khas Banten. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: